Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Bahasa dan Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Bahasa dan Sastra. Tampilkan semua postingan
Makna Imbuhan -man, -wan, -wati, -is, dan -isme

Makna Imbuhan -man, -wan, -wati, -is, dan -isme

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Perhatikan kalimat berikut!
Ilmuan Albert Einstein, selain terkenal jenius, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika.

Kata ilmuan dibentuk dari kata ilmu + -wan

Dalam bahasa Indonesia imbuhan -man, -wan, -wati berasal dari bahasa Sansekerta. Ketiga imbuhan tersebut berfungsi membentuk kata benda.

Makna imbuhan -man sebagai berikut.
1. Mentakan makna 'orang yang ahli dalam hal seperti tersebut pada bentuk dasar'.
2. Menyatakan makna 'orang yang memiliki sifat yang dibentuk pada bentuk dasar'.

Makna imbuhan -wan dan -wati sebagai berikut.
1. Menyatakan makna 'orang yang ahli dalam suatu bidang yang disebut pada bentuk dasarnya'.
2. Menyatakan makna 'orang yang memiliki sifat yang disebut pada bentuk dasar'.
3. Menyatakan makna 'orang yang pencahariannya dalam bidang tertentu'.

Perhatikan kalimat berikut!
Partai yang beliau dirikan bercorak sosialisme.

imbuhan -is dan -isme dalam kalimat di atas merupakan akhiran serapan asing penanda kata benda (nomina).
1. Imbuhan -is menyatakan orang.
Contoh:
kolumnis yaitu 'orang yang menulis rubrik tententu atau khusus di surat kabar atau median cetak'.

2. Imbuhan -isme menyatakan hal lain atau paham (aliran).
Contoh:
humanisme yaitu 'paham kemanusiaan'.

Sumber http://basindon.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Menggunakan Kata Asing dan Kata Serapan

Menggunakan Kata Asing dan Kata Serapan

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Bahasa Indonesia menyerap unsur dari beberapa bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing; misalnya dari bahasa Sansekerta,Arab, Portugis, Belanda, ataupun Inggris.

Unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua golongan besar seperti berkut ini.

1. Unsur serapan yang belum sepenuhnya masuk ke dalam kosakata bahasa Indonesia. Pengucapannya pun masih mengikuti cara asing.
Contoh:
real estate, reshuffle, shuttle cock

2. Unsur serapan yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Contoh:
patien menjadi pasien
ie tetap ie jika lafalnya bukan i
machine menjadi mesin

Selain dua kriteria tersebut, unsur serapan bahasa Indonesia diperoleh dengan cara seperti berikut ini.
1. Konsonan ganda menjadi tunggal kecuali jika terdapat pasangan yang dapat menimbulkan kekeliruan makna.
Contoh:
a. accu mejadi aki
b. commission menjad komisi
c. mass menjadi massa

Kata massa memunya dua konsonan ganda karena jika kata massa konsonan s dibuang satu maka akan mempunya arti berbeda. Kata massa berarti sekelompok orang atau benda. Sebaliknya, kata masa berarti waktu.

2. Unsur serapan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia tidak perlu lagi diubah.
Contoh:
iklan, otonomi, dongkrak, dan paham.

3. Unsur serapan yang mengandung huruf q dan x dieja sesuai dengan ejaan   bahasa Indonesia.
Contoh:
taxi menjadi taksi
executive menjadi eksekutif

Perhatikan bahwa huruf q dan x tetap dipertahankan dalam bahasa aslinya dalam pemakaian tertentu, misalnya dalam pebedaan nama dan istilah khusus.
Contoh:
xenophobia tetap xenophobia (ketakutan atau kebencian kepada orang asing atau apa pun yang asing).


Dikutip dari buku PG Bahasa Indonesia Kelas 9



Sumber http://basindon.blogspot.com/

Selain sebagai media informasi pendidikan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Kategori

Kategori